Selasa, 16 Februari 2016

Catatan Rabu pagi

Buka jendela menghirup udara pagi yang berembun setelah diguyur hujan semalaman. Sejuk, tenang dan damai.

Kemudian ku buka laptop di atas sandaran sofa oranye tempat ku biasa menghabiskan waktu. Sembari laptop menyala, ku menatap ke depan layar jendela. Mendung dan hijau, itu yang ku baca dari cuaca hari ini melalui pintu dan jendela.

Taman di bawah sana semakin hijau, teman mereka semakin banyak, bunga kamboja bermekaran dengan indah. Hati sempat berkata, pemadangan ini lagi. Tapi kemudian renungan itu mengusik hati. “Pemandangan ini lagi”. How dare I am! Harusnya saya bersyukur bisa duduk nyaman memandangi taman hijau dan kelopak bunga yang bermekaran di ujung sana. Saya bisa dengan nyaman membuka laptop, duduk di sofa empuk, menghirup udara segar dengan pemandangan hijau, dan kala malam bisa duduk bersandar bertatapan dengan bulan.

Terlintas bayangan seorang bocah kecil di kampung kecil yang bangun tidur hanya menggunakan celana dan singlet usangnya, pergi ke halaman belakang rumah, duduk di atas kursi kayu yang terbuat dari potongan pohon kelapa, licin karena baru diguyur hujan. Kakinya menapaki lumpur coklat dengan perut keroncongan. Ia membawa sebuah buku tulis dan pensil yang hampir habis hingga ujungnya. Ia menatap jauh ke belakang, di antara pohon-pohon kelapa yang menjulang. Kala itu dia terdiam, tapi ia senang.

Tidak perlu penerangan, tidak perlu sinyal. Dia bisa menulis dengan sebatang pensil apa yang ada di kepalanya.

Lalu, saya disini duduk nyaman, wifi menyala kencang, makanan di kulkas tersedia. Lalu apa lagi yang tidak bisa saya syukuri? Apa lagi yang bisa membuat saya berkecil hati?

Saya terdiam, mencoba menghirup udara lebih dalam. Seringnya kita lupa setiap nikmat yang kita punya. Ketika itu sudah tidak ada, kita merindukan masa yang lalu. Tapi waktu hanya berjalan sekali pada kodratnya. Ia tak mampu berulang, dan juga tak mampu dicepatkan. Ia berjalan sebagaimana seharusnya. Kita manusia, bersyukurlah!

Bahagialah dengan yang kamu punya, dengan hari ini. Karena kita tak bisa mengharapkan apa-apa yang di masa lalu, tidak pula bisa berharap usia panjang untuk masa yang depan.

Selamat hari Rabu :)

Jumat, 25 Desember 2015

Welcoming 2016

Dear 2016,

Semoga kita berjodoh bertemu merangkai memori yang lebih indah tahunmu nanti. Lagi-lagi ku titipkan angan dan doa baru agar kau temani aku merajut satu per satu mimpi. Mudahkan aku menyelesaikan apa yang tertunda tahun ini, menuntaskan apa yang seharusnya telah kutunaikan. Kubentangkan cita ku pada tahunmu, kuatkan langkahku menapaki waktu. Berikan aku kesempatan menikmati cinta yang kemudian juga mendekatkan ku pada sang pencipta.
Bersahabatlah 2016.

Minggu, 17 Mei 2015

Give Given

Someone ask me "why are you kind".
Then I am silent quite so long. Just laughing and do not know what to say.
Along the road I think about the answer? Why? Am I? Really? Is that right question or just "metaphor" to say the reverse one.
Then, I got the answer.
Because of you all. I just do what I got from you. Like the wiser said 'you get what you did'.
Yes, absolutely, you're so kind to everyone, and I got the lesson from you. Thanks to being me like I am today, just like what you said.
Thanks to being so kind.

Rabu, 31 Desember 2014

Hello 2015

Dear 2014.

Allah, terima kasih untuk segala berkah, anugerah dan rezeki yang Engkau berikan pada hamba dan keluarga hamba. Baik pengalaman indah maupun duka Engkau kuatkan hamba. Engkau kenalkan hamba pada cerita baru pengalaman baru teman baru tempat baru kegiatan baru rasa baru dan cara pikir baru yang membuat hamba semakin mensyukuri hidup yang Engkau anugerahi. Kesuksesan dan kegagalan selalu menjadi pelajaran berharga bagi hamba karena selalu ada hikmah indah yang Engkau iringi di dalamnya. Walau tidak seluruh resolusi tahun 2014 terpenuhi, tapi hamba menikmati setiap detik hidup yang hamba jalani. Terima kasih ya Allah,terima kasih 2014.

Dear 2015,
Selamat datang. Semoga kita bersahabat. Padamu aku titipkan cita dan cinta penuh harap agar Allah kabulkan. Biarkan pada tahunmu aku sempat melunaskan pekerjaan yang tertunda. Bersamamu aku akan melanjutkan kuliah S2 di UI atau S2 di luar negeri. Pada tahunmu juga aku tautkan harap agar bertemu jodoh hamba yang menjadi imam soleh bagi keluarga, dengan ikhlas karena Allah menikahi hamba, mencintai hamba, dan membimbing hamba. Di tahunmu juga bawa aku keliling daerah baru di Indonesia, pulau baru, pantai baru, gunung baru, kota baru, dan memori baru. Tambahkan rezekiku, mencukupi tabungan membeli mobil yang mempermudah perjalananku, menambah tabungan untuk keluarga kecilku nanti. Target gaji bertambah 3 juta dari gaji sekarang. Pada tahunmu ini juga jadikan aku pribadi yang semakin baik, semakin sholeha, khatam quran lebih sering, hafal ayat Alquran lebih banyak. Dan tetap, semoga kesehatan mama papa adik abang om tante sepupu ponakan kerabat sabahat dan diri sendiri tetap dalam kondisi sehat walafiat. Lets makes memories, lets be best friend 2015. Welcoming, honey :)

Minggu, 21 Desember 2014

JT356 CKG-PDG

Pantas, kepercayaan orang terhadap Lion Air belum pulih juga. Belakangan berpikir bahwa Lion Air semakin bagus pelayanannya terutama dalam hal ketepatan waktu. Ternyata jackpot, delay 1,5 jam dong. What!!!
Delay 1,5 jam itu pun belum pasti, bisa lagi lebih lama. Lelah capek ngantuk laper cuma disogok pake 1 buah roti. Aiiiih..
Selain masalah waktu, masalah kebersihan ruang tunggu juga memprihatinkan. Tulisan guede "kawasan tanpa asap rokok" malah jadi pusat gumpalan asap yg menyebalkan itu. Entah masalah moral atau masalah mata yg ga bisa baca petunjuk, yang pasti perilaku tersebut ganggu!!! Selain itu masalah sampah bikin gatal mata. Ini boarding room atau terminal bus, joroknya kebangetan. Tong sampah gede udah disiapin loh tapi tetep aja makhluk-makhluk planet ini cecerin sampah kacang, bungkus plastik, air mineral, sampe ada yg meludah di lantai, haiiikks, sungguh otaknya semua si dengkul.

JT356 cepatlah kita terbang menuju kampung halaman.

Sabtu, 20 Desember 2014

Makin tua makin membara

Semakin bertambah usia semakin bertambah emosi saya. Pepatah bilang semakin tua semakin bijaksana. Tapi berbeda dengan saya, semakin tua semakin mudah membara, mudah emosi, kesal dan marah.
Hal-hal kecil yang dulu tidak saya pedulikan tapi sekarang menjadi hal yang bisa membuat saya bermuram durja atau kesal berapi-api. Saya menjadi mudah murah atau kesal saat orang buang sampah sembarangan (apalagi yang buang sampah keluar jendela mobil di jalanan), orang nyerobot antrian, orang ngomong kasar sembarangan, orang bau (saya benci di sebelah orang bau, bikin emosi), sopir taxi salah jalan, macet, lihat demo, tukang ojek langganan tidak ada disaat sangat dibutuhkan bahkan bisa kesal kalau salah tawar harga (perempuan sekali). Tetap saja hanya bisa ngomel-ngomel sendiri tanpa berani mengungkapkan.
Hari ini saya kesal karena membeli makanan yang ongkos kirimnya sama dengan harga makanan. Aaah itu rasan 'what the h*ll', cuma beli frozen food dan cemilan murah tapi mahal pada ongkos kirim gara-gara kurirnya langsung kirim tanpa tanya-tanya dulu harga ongkirnya.
Sedangkan 3 minggu lalu saya pun terpaksa merelakan uang saya 390ribu karena salah pesan tiket untuk bos. Meeeen, saya belum gajian tapi udah harus keluar uang karena kebodohan.
Haaah kebodohan yang bertubi-tubi itu bikin lelah dan bangkrut. Kerja siang malam setiap hari bahkan weekend, tapi uang habis dijalan atau membayar hasil ketololan.
Tapi hanya emosi sesaat setelah itu hilang. But untuk gal-hal yang menyangkut merugikan finansial, hal itu bikin miris juga. Gaji ga seberapa, bukan anak siapa-siapa tapi pengeluaran bulanan bak anak gaul sejagat raya.
Selain ketololan, saya juga mudah mengeluarkan kata-kata kasar. Hari ini tiba-tiba nyeletuk 'anj*ng' saat ngobrol sama temen. Wow, bukan hal yang biasa keluar dari mulut saya.
Yap, saya memang gampang terpengaruh lingkungan. Dulu saya tidak suka menggunakan kata 'thanks' dan 'sorry' karena itu less meaning bagi saya, seperti tidak sungguh-sungguh. Jadi saya selalu menggunakan kata 'terima kasih' dan 'maaf'. Tapi sekarang saya seperti orang lainnya yang mulai terbiasa menggunakan thanks dan sorry.

Well, thanks

Senin, 15 Desember 2014

Daftar Rote Mengajar

Selamat Selasa Pagi.

Semalam saya mendaftar sebagai relawan di Rote Mengajar, salah satu hal yang dari dulu ingin saya lakukan tetapi selalu tertunda karena jebakan rutinitas pekerjaan.

Saya bukan orang yang pintar mengungkapkan perasaan dalam bentuk tulisan. Opps, bukan hanya dalam bentuk tulisan, tapi memang sulit mengungkapkan *haiss curcol*.
Waktu apply disuruh tulis motivasi dalam max 1000 characters. Bodohnya otak ini mikir 1000 kata. Jadilah mengarang indah, dan ternyata tidak terpakai juga. Daripada dihapus mending pindah kesini, sekalian menyimpan memori.

"Motivasi saya ikut Indonesia Mengajar khususnya Rote Mengajar adalah himbauan hati. Berkecimpung dalam Indonesia Mengajar bukan hal baru bagi saya walaupun saya tidak pernah menjadi PM. Tapi Indonesia Mengajar menginspirasi saya menjadi seseorang yang ikhlas berbuat baik terutama bagi pendidikan. Saya awalnya terlibat dalam Kelas Inspirasi, kemudian cukup aktif dan concern dengan kegiatan lainnya yang dilakukan Indonesia Mengajar.

Januari lalu saya pernah ke NTT selama 2 minggu untuk bekerja. Saya berbincang dengan masyarakat dan tokoh pendidik di NTT. Salah satu hal yang membuat saya pilu adalah masalah pendidikan di pulau NTT yang masih minim sentuhan pemerintah. Saya berbincang dengan seorang Bapak Tua, berkerah lusuh, berjalan lambat, yang tidak lain adalah Kepala Sekolah di SDK Kuka Unu,  salah satu sekolah dasar di Larantuka, Flores Timur. Saat berbincang dengan beliau, saya melihat jelas di matanya bagaimana ia tulus menyayangi dan memperhatikan murid-muridnya. Saya melihat raut wajah sedih saat ia bercerita mengenai masalah anak didiknya. Tapi tidak ada sedikitpun penyesalan terlihat dari raut wajahnya walaupun ia tidak digaji dengan layak sebagai Kepala Sekolah. Ia dengan tulus hati mengajar, dari hati untuk anak didiknya tercinta.

Berbagai masalah anak-anak ia ceritakan, mulai masalah perilaku hingga psikologis. Beliau bercerita mengenai masalah anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka yang bekerja diluar negeri. Sumber pengetahuan yang minim membuat pola pikir mereka pun terbatas. Mereka tidak tahu mengenai profesi lain selain profesi idaman banyak orang seperti presiden, dokter, dan TKI.

Ya benar, TKI, Tenaga Kerja Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari keluarga TKI. Lapangan pekerjaan yang sempit dan pengetahuan terbatas membuat mereka tidak bebas bercita-cita besar. Lingkungan mereka memberi contoh bahwa belajar setinggi apapun hanya akan menjadi TKI seperti ibu bapak dan tetangga mereka. Mereka terjerat pola pikir lingkungan yang tidak berkembang, “yang penting bisa makan”. Mereka tidak banyak tahu mengenai berbagai profesi yang ada. Sumber pengetahuan tidak sebanyak di kota, tidak segampang melihat televisi yang mana hidup mereka saat malam hari hanya ditemani sebatang lilin. Mereka tidak banyak mengenal profesi lain. Bukan hanya mereka tidak tahu profesi lain, bahkan mereka tidak memiliki buku layak untuk dibaca yang bisa mengembangkan pengetahuan mereka. Murid di SDK Kuka Unu hanya memiliki rak buku kecil yang diisi buku-buku hasil sumbangan orang-orang. Buku tersebut harus mereka baca bergantian. Rasa haus mereka akan pengetahuan tidak terpenuhi karena keterbatasan. Mereka perlu banyak dukungan dari banyak orang, perlu dorongan dan keyakinan akan hidup sukses selain hanya berprofesi sebagai TKI. Mereka harus bisa mengembangkan diri untuk kemajuan negeri agar masyarakat disana tidak lagi harus pergi menjadi TKI demi sesuap nasi. Mereka harus bisa menjadi generasi mandiri, mengembangkan daerah mereka sendiri dan menjadi terdepan dalam segala hal.

Lalu, hal inilah yang semakin mendorong saya untuk berjuang di bidang pendidikan. Pendidikan adalah kunci masa depan, kunci menjadi orang benar, kunci menjadi orang besar. Tidak ada orang yang terlahir bodoh, Tuhan membentuk manusia dengan kapasitas yang sama, lalu lingkungan lah yang membantu mengembangkannya.

Terlalu banyak hal yang perlu saya syukuri dari hidup, terlalu banyak kebaikan yang saya dapat, lalu saat ini lah waktunya saya berbagi rasa syukur dan kebaikan yang dihadiahkan Tuhan kepada saya. Saya hanya ingin menjadi orang yang berguna, berbagi sedikit kebaikan yang tidak sebanding dengan apa yang sudah saya terima. Saya ingin berbagi apapun yang saya bisa demi kemajuan mereka, anak bangsa.

Sedikit cerita saya memang tidak bisa menggambarkan keadaan pulau NTT secara keseluruhan, ataupun kondisi di Pulau Rote. Tapi saya yakin pulau Rote bisa mennginspirasi pulau-pulau lainnya untuk berkembang. Segala kebaikan dapat dimulai dari titik mana saja."

Salam cinta :)