Selasa, 16 Februari 2016

Catatan Rabu pagi

Buka jendela menghirup udara pagi yang berembun setelah diguyur hujan semalaman. Sejuk, tenang dan damai.

Kemudian ku buka laptop di atas sandaran sofa oranye tempat ku biasa menghabiskan waktu. Sembari laptop menyala, ku menatap ke depan layar jendela. Mendung dan hijau, itu yang ku baca dari cuaca hari ini melalui pintu dan jendela.

Taman di bawah sana semakin hijau, teman mereka semakin banyak, bunga kamboja bermekaran dengan indah. Hati sempat berkata, pemadangan ini lagi. Tapi kemudian renungan itu mengusik hati. “Pemandangan ini lagi”. How dare I am! Harusnya saya bersyukur bisa duduk nyaman memandangi taman hijau dan kelopak bunga yang bermekaran di ujung sana. Saya bisa dengan nyaman membuka laptop, duduk di sofa empuk, menghirup udara segar dengan pemandangan hijau, dan kala malam bisa duduk bersandar bertatapan dengan bulan.

Terlintas bayangan seorang bocah kecil di kampung kecil yang bangun tidur hanya menggunakan celana dan singlet usangnya, pergi ke halaman belakang rumah, duduk di atas kursi kayu yang terbuat dari potongan pohon kelapa, licin karena baru diguyur hujan. Kakinya menapaki lumpur coklat dengan perut keroncongan. Ia membawa sebuah buku tulis dan pensil yang hampir habis hingga ujungnya. Ia menatap jauh ke belakang, di antara pohon-pohon kelapa yang menjulang. Kala itu dia terdiam, tapi ia senang.

Tidak perlu penerangan, tidak perlu sinyal. Dia bisa menulis dengan sebatang pensil apa yang ada di kepalanya.

Lalu, saya disini duduk nyaman, wifi menyala kencang, makanan di kulkas tersedia. Lalu apa lagi yang tidak bisa saya syukuri? Apa lagi yang bisa membuat saya berkecil hati?

Saya terdiam, mencoba menghirup udara lebih dalam. Seringnya kita lupa setiap nikmat yang kita punya. Ketika itu sudah tidak ada, kita merindukan masa yang lalu. Tapi waktu hanya berjalan sekali pada kodratnya. Ia tak mampu berulang, dan juga tak mampu dicepatkan. Ia berjalan sebagaimana seharusnya. Kita manusia, bersyukurlah!

Bahagialah dengan yang kamu punya, dengan hari ini. Karena kita tak bisa mengharapkan apa-apa yang di masa lalu, tidak pula bisa berharap usia panjang untuk masa yang depan.

Selamat hari Rabu :)

Jumat, 25 Desember 2015

Welcoming 2016

Dear 2016,

Semoga kita berjodoh bertemu merangkai memori yang lebih indah tahunmu nanti. Lagi-lagi ku titipkan angan dan doa baru agar kau temani aku merajut satu per satu mimpi. Mudahkan aku menyelesaikan apa yang tertunda tahun ini, menuntaskan apa yang seharusnya telah kutunaikan. Kubentangkan cita ku pada tahunmu, kuatkan langkahku menapaki waktu. Berikan aku kesempatan menikmati cinta yang kemudian juga mendekatkan ku pada sang pencipta.
Bersahabatlah 2016.

Minggu, 17 Mei 2015

Give Given

Someone ask me "why are you kind".
Then I am silent quite so long. Just laughing and do not know what to say.
Along the road I think about the answer? Why? Am I? Really? Is that right question or just "metaphor" to say the reverse one.
Then, I got the answer.
Because of you all. I just do what I got from you. Like the wiser said 'you get what you did'.
Yes, absolutely, you're so kind to everyone, and I got the lesson from you. Thanks to being me like I am today, just like what you said.
Thanks to being so kind.

Rabu, 31 Desember 2014

Hello 2015

Dear 2014.

Allah, terima kasih untuk segala berkah, anugerah dan rezeki yang Engkau berikan pada hamba dan keluarga hamba. Baik pengalaman indah maupun duka Engkau kuatkan hamba. Engkau kenalkan hamba pada cerita baru pengalaman baru teman baru tempat baru kegiatan baru rasa baru dan cara pikir baru yang membuat hamba semakin mensyukuri hidup yang Engkau anugerahi. Kesuksesan dan kegagalan selalu menjadi pelajaran berharga bagi hamba karena selalu ada hikmah indah yang Engkau iringi di dalamnya. Walau tidak seluruh resolusi tahun 2014 terpenuhi, tapi hamba menikmati setiap detik hidup yang hamba jalani. Terima kasih ya Allah,terima kasih 2014.

Dear 2015,
Selamat datang. Semoga kita bersahabat. Padamu aku titipkan cita dan cinta penuh harap agar Allah kabulkan. Biarkan pada tahunmu aku sempat melunaskan pekerjaan yang tertunda. Bersamamu aku akan melanjutkan kuliah S2 di UI atau S2 di luar negeri. Pada tahunmu juga aku tautkan harap agar bertemu jodoh hamba yang menjadi imam soleh bagi keluarga, dengan ikhlas karena Allah menikahi hamba, mencintai hamba, dan membimbing hamba. Di tahunmu juga bawa aku keliling daerah baru di Indonesia, pulau baru, pantai baru, gunung baru, kota baru, dan memori baru. Tambahkan rezekiku, mencukupi tabungan membeli mobil yang mempermudah perjalananku, menambah tabungan untuk keluarga kecilku nanti. Target gaji bertambah 3 juta dari gaji sekarang. Pada tahunmu ini juga jadikan aku pribadi yang semakin baik, semakin sholeha, khatam quran lebih sering, hafal ayat Alquran lebih banyak. Dan tetap, semoga kesehatan mama papa adik abang om tante sepupu ponakan kerabat sabahat dan diri sendiri tetap dalam kondisi sehat walafiat. Lets makes memories, lets be best friend 2015. Welcoming, honey :)

Minggu, 21 Desember 2014

JT356 CKG-PDG

Pantas, kepercayaan orang terhadap Lion Air belum pulih juga. Belakangan berpikir bahwa Lion Air semakin bagus pelayanannya terutama dalam hal ketepatan waktu. Ternyata jackpot, delay 1,5 jam dong. What!!!
Delay 1,5 jam itu pun belum pasti, bisa lagi lebih lama. Lelah capek ngantuk laper cuma disogok pake 1 buah roti. Aiiiih..
Selain masalah waktu, masalah kebersihan ruang tunggu juga memprihatinkan. Tulisan guede "kawasan tanpa asap rokok" malah jadi pusat gumpalan asap yg menyebalkan itu. Entah masalah moral atau masalah mata yg ga bisa baca petunjuk, yang pasti perilaku tersebut ganggu!!! Selain itu masalah sampah bikin gatal mata. Ini boarding room atau terminal bus, joroknya kebangetan. Tong sampah gede udah disiapin loh tapi tetep aja makhluk-makhluk planet ini cecerin sampah kacang, bungkus plastik, air mineral, sampe ada yg meludah di lantai, haiiikks, sungguh otaknya semua si dengkul.

JT356 cepatlah kita terbang menuju kampung halaman.

Sabtu, 20 Desember 2014

Makin tua makin membara

Semakin bertambah usia semakin bertambah emosi saya. Pepatah bilang semakin tua semakin bijaksana. Tapi berbeda dengan saya, semakin tua semakin mudah membara, mudah emosi, kesal dan marah.
Hal-hal kecil yang dulu tidak saya pedulikan tapi sekarang menjadi hal yang bisa membuat saya bermuram durja atau kesal berapi-api. Saya menjadi mudah murah atau kesal saat orang buang sampah sembarangan (apalagi yang buang sampah keluar jendela mobil di jalanan), orang nyerobot antrian, orang ngomong kasar sembarangan, orang bau (saya benci di sebelah orang bau, bikin emosi), sopir taxi salah jalan, macet, lihat demo, tukang ojek langganan tidak ada disaat sangat dibutuhkan bahkan bisa kesal kalau salah tawar harga (perempuan sekali). Tetap saja hanya bisa ngomel-ngomel sendiri tanpa berani mengungkapkan.
Hari ini saya kesal karena membeli makanan yang ongkos kirimnya sama dengan harga makanan. Aaah itu rasan 'what the h*ll', cuma beli frozen food dan cemilan murah tapi mahal pada ongkos kirim gara-gara kurirnya langsung kirim tanpa tanya-tanya dulu harga ongkirnya.
Sedangkan 3 minggu lalu saya pun terpaksa merelakan uang saya 390ribu karena salah pesan tiket untuk bos. Meeeen, saya belum gajian tapi udah harus keluar uang karena kebodohan.
Haaah kebodohan yang bertubi-tubi itu bikin lelah dan bangkrut. Kerja siang malam setiap hari bahkan weekend, tapi uang habis dijalan atau membayar hasil ketololan.
Tapi hanya emosi sesaat setelah itu hilang. But untuk gal-hal yang menyangkut merugikan finansial, hal itu bikin miris juga. Gaji ga seberapa, bukan anak siapa-siapa tapi pengeluaran bulanan bak anak gaul sejagat raya.
Selain ketololan, saya juga mudah mengeluarkan kata-kata kasar. Hari ini tiba-tiba nyeletuk 'anj*ng' saat ngobrol sama temen. Wow, bukan hal yang biasa keluar dari mulut saya.
Yap, saya memang gampang terpengaruh lingkungan. Dulu saya tidak suka menggunakan kata 'thanks' dan 'sorry' karena itu less meaning bagi saya, seperti tidak sungguh-sungguh. Jadi saya selalu menggunakan kata 'terima kasih' dan 'maaf'. Tapi sekarang saya seperti orang lainnya yang mulai terbiasa menggunakan thanks dan sorry.

Well, thanks

Senin, 15 Desember 2014

Daftar Rote Mengajar

Selamat Selasa Pagi.

Semalam saya mendaftar sebagai relawan di Rote Mengajar, salah satu hal yang dari dulu ingin saya lakukan tetapi selalu tertunda karena jebakan rutinitas pekerjaan.

Saya bukan orang yang pintar mengungkapkan perasaan dalam bentuk tulisan. Opps, bukan hanya dalam bentuk tulisan, tapi memang sulit mengungkapkan *haiss curcol*.
Waktu apply disuruh tulis motivasi dalam max 1000 characters. Bodohnya otak ini mikir 1000 kata. Jadilah mengarang indah, dan ternyata tidak terpakai juga. Daripada dihapus mending pindah kesini, sekalian menyimpan memori.

"Motivasi saya ikut Indonesia Mengajar khususnya Rote Mengajar adalah himbauan hati. Berkecimpung dalam Indonesia Mengajar bukan hal baru bagi saya walaupun saya tidak pernah menjadi PM. Tapi Indonesia Mengajar menginspirasi saya menjadi seseorang yang ikhlas berbuat baik terutama bagi pendidikan. Saya awalnya terlibat dalam Kelas Inspirasi, kemudian cukup aktif dan concern dengan kegiatan lainnya yang dilakukan Indonesia Mengajar.

Januari lalu saya pernah ke NTT selama 2 minggu untuk bekerja. Saya berbincang dengan masyarakat dan tokoh pendidik di NTT. Salah satu hal yang membuat saya pilu adalah masalah pendidikan di pulau NTT yang masih minim sentuhan pemerintah. Saya berbincang dengan seorang Bapak Tua, berkerah lusuh, berjalan lambat, yang tidak lain adalah Kepala Sekolah di SDK Kuka Unu,  salah satu sekolah dasar di Larantuka, Flores Timur. Saat berbincang dengan beliau, saya melihat jelas di matanya bagaimana ia tulus menyayangi dan memperhatikan murid-muridnya. Saya melihat raut wajah sedih saat ia bercerita mengenai masalah anak didiknya. Tapi tidak ada sedikitpun penyesalan terlihat dari raut wajahnya walaupun ia tidak digaji dengan layak sebagai Kepala Sekolah. Ia dengan tulus hati mengajar, dari hati untuk anak didiknya tercinta.

Berbagai masalah anak-anak ia ceritakan, mulai masalah perilaku hingga psikologis. Beliau bercerita mengenai masalah anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka yang bekerja diluar negeri. Sumber pengetahuan yang minim membuat pola pikir mereka pun terbatas. Mereka tidak tahu mengenai profesi lain selain profesi idaman banyak orang seperti presiden, dokter, dan TKI.

Ya benar, TKI, Tenaga Kerja Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari keluarga TKI. Lapangan pekerjaan yang sempit dan pengetahuan terbatas membuat mereka tidak bebas bercita-cita besar. Lingkungan mereka memberi contoh bahwa belajar setinggi apapun hanya akan menjadi TKI seperti ibu bapak dan tetangga mereka. Mereka terjerat pola pikir lingkungan yang tidak berkembang, “yang penting bisa makan”. Mereka tidak banyak tahu mengenai berbagai profesi yang ada. Sumber pengetahuan tidak sebanyak di kota, tidak segampang melihat televisi yang mana hidup mereka saat malam hari hanya ditemani sebatang lilin. Mereka tidak banyak mengenal profesi lain. Bukan hanya mereka tidak tahu profesi lain, bahkan mereka tidak memiliki buku layak untuk dibaca yang bisa mengembangkan pengetahuan mereka. Murid di SDK Kuka Unu hanya memiliki rak buku kecil yang diisi buku-buku hasil sumbangan orang-orang. Buku tersebut harus mereka baca bergantian. Rasa haus mereka akan pengetahuan tidak terpenuhi karena keterbatasan. Mereka perlu banyak dukungan dari banyak orang, perlu dorongan dan keyakinan akan hidup sukses selain hanya berprofesi sebagai TKI. Mereka harus bisa mengembangkan diri untuk kemajuan negeri agar masyarakat disana tidak lagi harus pergi menjadi TKI demi sesuap nasi. Mereka harus bisa menjadi generasi mandiri, mengembangkan daerah mereka sendiri dan menjadi terdepan dalam segala hal.

Lalu, hal inilah yang semakin mendorong saya untuk berjuang di bidang pendidikan. Pendidikan adalah kunci masa depan, kunci menjadi orang benar, kunci menjadi orang besar. Tidak ada orang yang terlahir bodoh, Tuhan membentuk manusia dengan kapasitas yang sama, lalu lingkungan lah yang membantu mengembangkannya.

Terlalu banyak hal yang perlu saya syukuri dari hidup, terlalu banyak kebaikan yang saya dapat, lalu saat ini lah waktunya saya berbagi rasa syukur dan kebaikan yang dihadiahkan Tuhan kepada saya. Saya hanya ingin menjadi orang yang berguna, berbagi sedikit kebaikan yang tidak sebanding dengan apa yang sudah saya terima. Saya ingin berbagi apapun yang saya bisa demi kemajuan mereka, anak bangsa.

Sedikit cerita saya memang tidak bisa menggambarkan keadaan pulau NTT secara keseluruhan, ataupun kondisi di Pulau Rote. Tapi saya yakin pulau Rote bisa mennginspirasi pulau-pulau lainnya untuk berkembang. Segala kebaikan dapat dimulai dari titik mana saja."

Salam cinta :)


Rabu, 24 September 2014

An early morning

Pagi.. kamis pagi.. it's still to early bagi saya yang malas bangun pagi kecuali jika ada kegiatan.
Saya duduk diam di atas kasur sambil menatap diri didepan cermin besar di lemari. Like usual, saya suka bercermin, ngobrol sendiri, cengar cengir sendiri.
Tidak ada yang istimewa pagi ini. Hanya sedang mencoba berbicara sendiri dan memberanikannya tertuang dalam bentuk  kata, tidak hanya disimpan dalam hati.
Tapi hanya tetap merasa do I need to talk about everything in social media? But, why not. Saya membuat ini bukan untuk dibaca orang lain, tapi untuk diri saya sendiri mengukur sudah sejauh mana perjalanan saya, pemikiran saya, perbuatan saya, yang mungkin menjadi lelucon di suatu hari nanti.
Yap, pagi ini satu film telah ditonton: 'baggage claim', oow dan ternyata masih jam setengah 9. Rekor rasanya bagi saya seorang kebo ini sudah menyelesaikan 1 film dan still at 8:30, wow. Bercerita sedikit mengenai film ini, seperti kembali berkaca pada diri. Aaah bener, ternyata saya wanita too ordinary sekali, mengharapkan kisah kisah romantis, mengharapkan orang yang sempurna, mencari menggali jauh, dan akhirnya sadar tidak ada yang sempurna. Klise, semua orang tau, gampang, but in real life mengapa setiap perbuatan masih saja berharap dan kecewa dengan ketidaksempurnaan. Bukan, bukan, bukan berarti saya orang yang gampang dan sering kecewa, hanya saja saya orang yang terlalu sering mengabaikan banyak hal sebagai antisipasi saya untuk tidak merasa kecewa. Menolak untuk kecewa membuat saya tidak mudah percaya akan rasa. Haiyaaa, pagi udah ngomongin kecewa, nanti malah dikira galau. Susah jaman sekarang, ngomong dikit dibilang curhat, kecewa dikit dibilang galau.
Ngobrolin yang enak aja deh. Tentang mimpi. Mimpi menjadi bidadari. *namanya juga mimpi*.
Tuh kan, kehabisan ide lagi harus ngomong apa. Sebelum semuanya benar-benar buyar karena saya mulai elus-elusan lagi dengan kasur, saya cerita sedikit mengenai mimpi. Tapi ini truth mimpi, dalam tidur, yang pernah dialami.
Saya orang yang selalu bermimpi ketika tidur. Tidur di kelas, dalam rapat, di atas angkutan umum, even just 2 minutes pun saya pasti bermimpi. Tapi ada mimpi-mimpi yang selalu berulang.
Mimpi jatuh mimpi kaget, mungkin biasa dan dialami banyak orang.
Tapi saya pernah beberapa kali bermimpi berada di dalam ruang putih bersih dan luas, tanpa batas, hanya seorang diri. Tanpa tahu harus apa, dimana, dan mengapa, saya hanya diam terpana. Sampai saat ini mimpi itu masih jelas seakan nyata tapi tak pernah mengerti maknanya. Maybe someday saya akan paham, karena pernah seorang teman mengatakan bahwa ada sesuatu mengenai mimpi saya ini. So, jika pun benar ada hal yang perlu saya pahami, semoga segera terjadi.
Then, ada lagi, mimpi yang dalam satu tahun terakhir ini selalu dengan tema yang sama: air. Apapun mimpi saya selalu dikaitkan dengan air. Laut, danau, sungai, dll sejenis perairan itu. Cerita berbeda, namun selalu ada salah satunya, dan paling sering muncul adalah sungai. Lagi lagi, tidak tau apa maknanya. Jika pun ada semoga ini pertanda baik.
Mengarang sedikit blog saja membutuhkan waktu almost an hour bagi saya. Berhubung saya dalam masa setengah jobless setengah bertugas, dan masih jam 9:30, masih berasa pagi, bantal-bantal mulai memanggil kembali, dan perut kosong harus ditahan sampai magrib nanti, saya cuss tidur lagi. Semoga cukup hanya 1 jam, karena saya ingin ke rs melihat baby Abrizan lagi.
See yaa diary :)

Random thought

Kamu tidak butuh menjadi kaya untuk merasa bersyukur.
Kamu tidak butuh menjadi miskin untuk merasa menderita.
Kamu tidak butuh menjadi cantik untuk merasa dipuja.
Kamu tidak butuh menjadi jelek untuk merasa dihina.
Kamu tidak butuh menjadi orang yang menyenangkan untuk disukai.
Kamu tidak butuh menjadi orang yang menyebalkan untuk dibenci.
Kamu tidak butuh menjadi orang pintar untuk dihargai.
Kamu tidak butuh menjadi orang bodoh untuk dijauhi.
Lalu, apa yang menjamin hidupmu?
Lalu, kapan kamu merasa sempurna?
Lalu, butuhkan Anda harta untuk menikmati hidup?
Kamu bisa merasakan segalanya, tanpa syarat

Jumat, 25 Oktober 2013

Judulnya sih penelitian, tapi ujung-ujungnya jalan-jalan dan kuliner.Aceh Lon Sayang

Hollaaa backgirl.. I'm coming back to dunia maya.. Keinginan untuk nulis sangat besar tapi saya ga ada bakat sama sekali, lebih suka cerewet di dunia nyata daripada maya. But, saya berasa sudah sangat ketinggalan dimana saat ini engga bocah ga remaja ga tua ga muda semua bisa mengekspresikan ide nya, pengalamannya, kisahnya, memorinya, dalam bentuk tulisan, then i'll do it too biar kisah saya engga lupa coz every single times of life sangat berharga bagi saya. 

Lagi-lagi of course kisah ini tentang travelling because i'm so in love all about travelling, go travel around the world, my wish, specially USA, Europe, and New Zealand..
My most wonderful travelling sudah saya ceritakan di awal, " Trip to Thai-Malay", unforgattable moments and partners. Next stories ada beberapa perjalanan saya baik dalam rangka jalan-jalan maupun kerja tapi jalan-jalan juga, so kerja saya adalah jalan-jalan 😁

Mari coba saya ingat kembali daftar panjang perjalanan saya di awal tahun 2012 hingga saat ini, *gaya bener kayak yg udah kemane2 aje*
Diawali dgn Trip edan ke Thailand dan Malaysia pada awal tahun 2012, then saya melanjutkan tugas mulia yaitu menyelesaikan skripsi. Lagi-lagi background utama kenapa saya ambil penelitian skripsi ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena ingin jalan-jalan, Yes, penelitian ini akan ke Aceh. Walau biaya penelitian ini terbilang lumayan besar karena saya harus menanggung tiket perjalanan sendiri, itu tidak jadi masalah selagi saya bisa belajar dan mengenal indahnya daerah baru. Finally sampailah saya bersama Dina (rekan 1 payung skripsi) dan Mas Dicky (dosen super charming) di negeri Serambi Mekkah pada bulan April 2012.




Aceh itu negeri yang indah dengan masyarakatnya yang super ramah. Saya benar-benar dibantu kakak-kakak disana dalam pengambilan data. Sembari berkenalan dengan penduduk untuk mengambil data kuesioner dan wawancara, kami mendapatkan banyak pengalaman dan cerita baru. Dari pengalaman duka saat korban mengalami bencana tsunami 2004 lalu hingga cerita bahagia akan eloknya negeri Aceh yg banyak bisa kami kunjungi. Berkenalan dengan masyarakatnya, dijamu, dihargai, merupakan kebahagiaan tersendiri saat itu. Memang benar bahwa masyarakat Aceh itu berperilaku sesuai dengan filosofi bentuk rumah adatnya. Rumah adat yg besar dengan pintu kecil dibawah, masuknya harus menunduk, tapi sesampai di dalam akan kagum dengan luasnya. Sama hal nya dengan masyarakatnya, untuk awal akan tertutup namun setelah kita mendapatkan hatinya, segalanya akan diberikan kepada kita, begitu hebatnya keramahan mereka terhadap tamu.

Disela-sela pengambilan data tidak lupa kami menyempatkan diri mengeksplor Aceh, khususnya Banda Aceh saat itu. Saya bersama Dina meminjam motor rekan disana, kami pun bebas berkeliling dipandu oleh sebuah gps hp 😁
Tapi di hari lain, terkadang kami diajak jalan-jalan ditemani rekan-rekan disana. Kami sempat mengunjungi museum Tsunami, kapal tanker pln yg terdampar di darat, kapal yg terdampar diatas rumah penduduk, menikmati sore di pantai, jalan-jalan dan berfotoria di Pantai Lhoknga hingga wisata kuliner yg tak kunjung habis.



Mari diceritakan satu-persatu *sembari mengenang kembali*
First of all diajakin nongkrong di cafe pada malam hari, ngopi-ngopi santai dan bercengkrama. Ternyata kebiasaan masyarakat Aceh adalah ngopi dan berkumpul di warung kopi. Warung kopi menjadi tempat paling utama untuk segala kegiatan, dari yg sekadar kongkow-kongkow sampai meeting serius diadakan di warung kopi, jadi jangan kaget kalau warung kopi sangat menjamur di setiap sisi di Aceh.
Selain menyediakan kopi, makanan Aceh yg paling tersohor yaitu mie Aceh. Mie aceh ini memang ajaib enaknya, berhasil membuat saya naik berat badan 4kg selama disana. Mie aceh rebus, mie aceh goreng, mie rebus kepiting, mie goreng basah, dan lain sebagainya itu tetap juara nikmatnya. Bagi pecinta mie *seperti saya* kudu harus coba mie Aceh didaerahnya langsung. Kopi nya pun ga kalah gila enaknya, dari kopi susu, kopi tarik, dan kopi Sanger menjadi idola saya. 
Segala wisata kuliner puas saya nikmati disana, dari mie, kopi, kue khas Aceh seperti timpan, dll, ikan kayu, ikan goreng segar, mie warung Solong, hingga roti cane dan makanan mamak *ala India* lainnya berhasil membuat saya naik 4 kg dalam 10 hari, haha..
Tapi ada beberapa makanan yang tidak sempat kami nikmati yaitu Sup ikan Hiu dan Kari Kambing *ssstt, yg kabarnya Kari ini sangat enak karena ada ganjanya, ini cuma gosip loh, karena gosip itu kami kepengen nyoba, haha*.








Dari wisata kuliner sampai wisata jalan-jalan kami arungi, menikmati indah dan bersihnya pantai Lhoknga bikin hati tenang berada disana. Kemudian jalan-jalan seantero kota Banda Aceh sudah cukup membuat kami merasa betah berada disana. Disayangkan lagi, saat itu kami belum berkesempatan melanjutkan perjalanan ke Sabang. But, sabang akan menjadi destinasi berikutnya dalam list jalan-jalan saya, waiting for me Sabang 😘




Yaaa, saya rasa ide menulis saya telah habis untuk malam ini.
Next, akan saya sambung dengan cerita lainnya, dari Bojonegoro, Jogja, Surabaya, Bali, Semarang, Banjarnegara, Lampung, Baduy, Sukabumi, Garut, Lhokseumawe, Bandung hingga kembali ke tanah kelahiram tercinta, Padang. See yaaaa, see you when i see you 😘









Rabu, 29 Mei 2013

It's life

Our life is too short. Taste, smell, sense everything around you. Just do your passion and live your life with love what you love the most.

Kamis, 17 Januari 2013

First backpack to Thailand and Malaysia


This is it, here we are, Agung, Elsha (Me), and Risca. We are a team in every single time in life *gaya benar dah. Kita adalah tiga bocah yang disingkat menjadi EAR (telinga, an ear to hear with heart), tim backpackeran sejati yang tanpa pikir panjang ingin keliling dunia, apapun caranya.
Awalnya kisah ini bermula saat kita killing the night dari muterin lapangan parkir GI ampe atapnya dan berakhir di Kota sambil ngupi-ngupi dan dinyamukin. Engga habis disana aja, kita lanjut ke Ancol ampe subuh, pulang ke rumah Risca bentar untuk mandi, makan, dan istirahat sekejap then go to danau Srengseng Sawahan, Menteng hingga tidur di Monas.  Pembicaraan pun dimulai, dari rencana mau keliling Jawa pake mobil hingga akhirnya memutuskan jalan-jalan ke luar negeri yaitu Thailand-Malay-dan Spore (in plan). Then, terpilihlah tanggal cantik di akhir Januari 2012  (gue lupa tanggal tepatnya, udah 1 thn yang lalu booook) setelah gue dan Risca menunaikan tugas wajib mengumpulkan draft proposal skripsi dan Agung yang baru selesai melaksanakan tugas sebagai anak sulung yang manis merayakan ulang tahun mamah tercintanya.

Setelah beli tiket, booking kamar hotel dan persiapan makanan, tibalah saatnya petualangan dimulai. At the time, kita berangkat dari Soeta dan sampai ke Suvarnabhumi airport Bangkok jam 10an malam, means kira-kira 3 jam perjalanan di pesawat. Sesampainya di airport, langsung lah kita hunting free map of Bangkok dan memainkan intuisi masing-masing hingga muka cengok kita terdeteksi oleh orang travel. Yup, penawaran pertama deal dimana kita keesokan harinya akan dibawa travelling wisata budaya seantero kota Bangkok (in real nya sih ternyata muter disana-sana doang). Dari airport, kita naik taxi menuju PenPark Hotel. Wah, kejadian ajaibnya, si sopir taxi engga ngerti bahasa inggris sama sekali, ya kita kan juga kagak bisa bahasa thai, terjadi lah roaming skala internasional di dalam taxi. Kita cekikikan abis ngejahilin si sopir taxi yang kagak ngerti kalau lagi diomongin. Doi mah senyam senyum cool aja. Alhamdulillah sampai juga di hotel dengan selamat. Waktu bayar taxi nya bingung, doi kagak ngerti cara bilang ongkos taxinya berapa, kita kagak ngerti juga gimana cara nanya ke dia. Untungnya ada si Boy (penjaga hotel) yang bisa dual bahasa, makasih Boy *kecup dari Agung.
 
Mampir hotel bentar untuk taruh barang then we go to Khao San road menikmati malam kota Bangkok bersama bule-bule edun, full of Alcohol and strippers. Besoknya kita jalan-jalan ke beberapa temples terkenal di Bangkok. Tour guide kita orang yang baik dan bahasa Inggrisnya oke. Dia banyak membantu kita dan sekaligus 'menjebak' kita :D

Di hari pertama itu juga kita memulai semua kejadian yang unforgettable dengan bertemu dengan yang namanya NANG *I Love You Nang* (timpuk mesin ATM). Nang, the most unforgettable woman name in life. Dia bakal biang yang buat perjalanan kita menjadi sangat tidak terlupakan, tak akan pernah. Gagal ke Pattaya, hidup terlunta-lunta sesampenya di Phuket, susah makan sampai makan nasi basi, dan jalan kaki hingga 20 km menjelajahi pantai naik gunung turun tebing jalan lagi naik gunung dan hanya berbekal roti murah dan aqua. wow, amazing journey.  Makasih Nang *cium.
Ceritanya begini. Setelah wisata budaya, kita diajakin mampir sama tour guide ke kantor travel mereka, katanya sih untuk beri masukan, pendapat dan komentar aja, ternyata oh ternyata. Nah, disini nih kita ketemu tante Nang. Dia pintar banget mempersuasif kita untuk ikut trip ke berbagai tempat yang memang bikin ngiler. Tapi harganya mahal banget. Sayang, kita bukan anak presiden, Nang. Negosiasi dengan Nang berlangsung selama 3 jam, menolak Nang jauh lebih susah dari pada menolak ajakan masuk mlm. Setelah timbang sana sini, tulis sana sini, ngobrol sana sini, itung uang ana dan uang tini, diperolehlah sebuah kata mufakat dengan ikut tripnya Nang dari Bangkok menuju Phuket dan Penang. Tapi jangan dibayangkan ini trip indah senang-senang, tapi ini hanya trip dari bus ke bus, nginap di guest house, dan travel ke travel. Engga ada trip plus-plus berlibur di pulau indah. Mencapai kata mufakat, kita dianter dulu untuk tuker uang rupiah ke baht, nyari yang paling tinggi nilai tukarnya. Setelah kasih uang ke om tour guide, kita berencana menyempatkan diri ke Pattaya. Eh, dilarang sama om tour guide karena pertimbangan dari dia, Pattaya biasa aja jika dibanding Phuket, engga ada yang begitu spesial, then waktu itu udah sore banget untuk melakukan perjalanan ke Pattaya. Pertimbangan lain, uang kita terbatas. Padalah kita udah booking penginapan di Pattaya. Setelah berunding panjang, kita sepakat untuk merelakan diri engga jadi menginjak pasir pantai Pattaya.

Sebenarnya engga hanya karena Nang, kita juga kehabisan uang karena nilai tukar rupiah dengan baht sangat rendah disana, jadi kita mengalami kerugian yang cukup besar sehingga uang yang kita sediakan tidak mencukupi untuk menjalankan kegiatan seperti pada planning awal. Tips jitu travelling, jangan pernah membawa Rupiah keluar negeri karena nilai tukar rupiah sangat rendah. Udah ada yang mau terima rupiah aja udah bersyukur karena memang tidak semua money changer menerima rupiah. Jadi, untuk lebih aman, lebih baik membawa dollar kemana-mana. Karena urusan change money ini, setiap melihat kios money changer pasti kita langsung excited bertanya dan berharap mendapat nilai tukar yang lebih tinggi. So, we are always hunting money changer in every angle of street ^.^

Selama di Bangkok, jangan lupa mampir ke Chatuchak Market yaitu pasar malamnya orang sini yang menjual barang-barang serba murmer. Disini, kita bertemu dengan the most beautiful girl ever, Nasri, seorang gadis muslimah berkerudung yang cantik banget, keturunan asli Thai, pinter, dan baik, we can call her perfect.  Dia yang bantu kita menemukan mushalla di tengah Chatuchak market dan nemenin makan makanan khas thai halal. So many thanks to you, Nasri. Hope we can see each other again.
Terus, pastikan juga pernah mencoba naik kereta di Bangkok. Dan yang paling penting, kudu wajib dicoba untuk naik Tuk Tuk yang kalau orang Jakarte bilangnye itu bajaj. Nih die Tuk Tuk alias bajaj. Desainnya persis seperti bajaj, tapi kecepatannya jangan diragukan, ngebut banget. Keahliannya sih sama dengan bajaj kita, suka ngeles ngebajaj, tapi yang satu ini lebih lincah aja dan jalannya engga gerogokan kayak bajaj di Jakarta.

<< Gambar yang bikin kita kaget di dalam Tuk Tuk.
Ternyata larangannya pertama, engga boleh kentut dan kedua, dilarang cute alias cubit tete'. Wah, peraturannya bagus sekali ya. Terima kasih loh Tuk Tuk, udah care sama keamanan perempuan.. ^.^

Setelah jalan-jalan di Bangkok, kita berangkat ke Phuket menggunakan bus bertingkat. Lama perjalanan kira-kira 13-14 jam. Sesampainya di Phuket, ternyata orang yang mau menjemput kita belum datang. Tapi di terminal Phuket banyak orang baik yang bantuin, khususnya salah satu kakek-kakek gaul yang ternyata jago bahasa Inggris (tapi engga tau deh Inggris bagian mana dengan pronounce nya yang ajaib begitu). Paman yang menjemput kita datang dan kita dibawa ke hotel yang telah direservasi oleh Nang.
 
Karena kita menggunakan travelnya si Paman yang baik itu untuk ke Phi Phi Island, kita dikasih bonus dianter jalan-jalan dari Patong Beach, Karon Beach, Kata Noi Beach dan Kata Beach. Ini pemandangan dari salah satu puncak di daerah dekat Kata beach.


Dari puncak itu, kita diantar ke Kata Beach. Dipikir (liat dari map) jarak Kata beach ke Patong tempat kita menginap itu dekat. Ternyata jauh banget karena pantai Kata dan Patong dibatasi oleh karang yang engga bisa dilalui, makanya kita harus melalui pantai dari Kata, Karon, Kata Noi dan naik bukit untuk bisa sampai ke Patong. Saat itu kira-kira jam 12 siang, panasnya ya Allah panas banget dan perut lapar. Tapi karena uang kita saat itu benar-benar kritis, kita engga bisa naik Tuk Tuk untuk sampai ke Patong dan engga bisa beli makanan yang cukup layak sebagai makan siang. Kita cuma bisa beli roti murah dan aqua botol besar sebagai bekal penyanggah hidup saat itu. Walau capek, lapar, tapi hati senang karena pemandangan yang kita lalui sangat bagus.


Di tengah jalan berasa mengalami fatamorgana karena ada salah satu restoran yang lagi promo. Kita mampir lah untuk makan siang. Kita pesan beberapa menu yang halal, tapi rasa makanannya agak aneh. Kita sih berbaik sangka aja kalau itu semua memang halal, namanya juga orang lapar, capek, dan engga punya duit. Setelah makan siang dan mengisi energi, kita melanjutkan perjalanan sampai penginapan. Dan ternyata jarak perjalanan yang kita tempuh itu berkisar 16 km, wow, engga nyangka ternyata kita superhuman ^.^ Jalan dari jam 12an siang san sampai penginapan jam setengah 6.. Hmm, hitung aja deh berapa jam itu.


Phuket.. Phuket.. Phuket.. adalah pulau indah tak terlupakan, pantai-pantai yang ajigilee indahnya dan bule-bule yang doyan telanjang ada dimana-mana. Setelah siang hari puas berjalan-jalan, malamnya jangan lupa menikmati pemandangan strippers cewek (asli dan buatan) di Bang La Road bersama bule-bule mabok yang transaksi 'something' dibawah kotak rokok jalanan. Tapi perlu diakui, banci-banci disini cantik banget dan mulus terawat. Bahkan kaum transvestite ini dilegalkan sebagai gender ketiga di Phuket. Aneh dan ajaib, yang laki banyak berperan jadi perempuan, yang  perempuan berpakaian dan berlaku sebagai laki-laki dan mereka gandengan. Pasangan yang serasi ya.


Okay, then, tidak akan pernah sempurna jalan-jalan kita kalau belum ke Phi Phi Island, dan disana lah kita bisa melihat Maya Beach yang notabene itu tempat syutingnya mas Leonardo de Caprio untuk salah satu filmnya dulu. Sebelum sampai ke dermaga Phi Phi Island, kita bisa snorkling menikmati keindahan bawah laut disana.


Setelah panas-panasan, kita makan siang di salah satu hotel di Phi Phi Island. Kita makan membabi buta, rebutan makanan sama bule-bule India, Cina dan Eropa. Berhubung kita kekurangan uang, kita tak lupa membungkus makanan prasmanan di hotel tersebut. Yak, itu berkat kelihaian tangan dan taktik Agung dan Risca yang berhasil membawa beberapa bungkusan nasi dan lauk (tuh, yang di kantong hitam ^.^) Proud of you guys.

Pantai udah, Phi Phi Island udah (nyesel juga engga bisa ke James Bond island), kurang pas rasanya kalau belum keliling Phuket. Kita menyewa dua motor, Agung sendiri dan Risca memboncengi gue. Kita keliling Phuket dari penginapan bermodalkan a map. Sungguh, pemandangan sepanjang jalan indah banget. Ternyata banyak banget pantai-pantai di Phuket yang lebih bagus dan sepi. Ada yang penuh dengan karang dan ada  pantai dengan pasir putihnya yang bersih.



Ini beberapa foto pantai yang kita lewati.

























Dari pantai ke pantai, kita menuju Big Buddha di puncak gunung. Big Buddha adalah patung Buddha tertinggi dan terbesar yang ada di Phuket, jadi kita masih bisa melihat patung ini dari beberapa pantai yang jauh sekalipun. Pemandangan menuju kesana pun engga kalah bagus, sayang aja engga ada fotonya. Saking terpana, jadi lupa untuk foto-foto.













 Di Big Buddha ini ada dua gong ajaib yang apabila digosok-gosok dengan teknik tertentu bisa mengeluarkan bunyi gema yang besar. Kononnya orang yang berhasil membunyikan gong ini berarti manusia berhati bersih. Memang terbukti tidak semua orang dapat membunyikannya. Gue dan Risca mencoba beberapa kali engga pernah berhasil. Tapi Agung setelah mencoba berkali-kali dengan usaha pantang menyerah ia berhasil membunyikan gong tersebut. Wah, dia mah senang dan  bangga banget saat itu sampai ada seorang bule Gay yang naksir dan kagum sama dia.


Di malam hari kita berjalan-jalan menggunakan motor keliling Patong.
Melewati pub demi pub, main di pantai malam hari dan sedikit berbelanja.

 Di Patong ada satu mall namanya Jungceylon. Lihat deh salah satu kerjaan ini bocah di papan reklame toko di Jungceylon.
                                                     

Jangan lupa juga untuk mencoba teh tarik buatan orang Malaysia. Ini teh tarik terenak yang pernah kita coba. Dan kita sering dikasih gratisan karena cerita punya cerita, yang bikin teh tarik ini naksir sama Risca #eeaaaaa.. Oh abang, kutunggu cintamu dan cintaku berlabuh di teluk kuantan abang..
Ternyata ini makna baju yang kita beli "Somebody in Phuket love me"..
 Nih dia abang yang naksir Risca. "Abang, kalau kau lihat ini, kirim pesan padaku ya, pesan untuk hatiku" pesan Risca #eeeaaa


Phuket is over. And it's time to go to next destination, next journey, next story. Dari Phuket kita lanjut menuju Malaysia menggunakan mini bus yang sudah termasuk paket yang kita bayarkan pada Nang. Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Penang. Niat awalnya dari Penang mau langsung berlayar menuju Langkawi. Tapi karena kita sampai Penang kemalaman, kapal ferry menuju Langkawi engga ada, baru ada kembali jam 6 subuh.
This, George Town in Penang .. >>



Sejujurnya di Penang kita engga punya tempat penginapan karena ini diluar planning awal. Kita akhirnya menginap alias numpang tidur di mesjid Penang, mesjid paling bersejarah di Penang. Di mesjid ini ada seorang garin mesjid, bapak-bapak yang bantuin kita. Beliau dengan baik hati mengantarkan kita setelah subuh ke pelabuhan menuju Langkawi. So many miracles we got.
 Welcome to Langkawi. Langkawi sebenarnya pulau besar yang indah namun karena kita hanya berencana satu malam disana dan engga punya informasi yang cukup mengenai tempat itu, kita engga bisa mengeksplor keseluruhan Langkawi. Kita hanya menghabiskan waktu dengan berjalan kaki menyusuri pantai demi pantai, jalan demi jalan, hingga ke barber shop. Barber shop of Kumar, tempat keramatnya Agung gunting rambut.
"Bagus, bagus, bagus kok. Tunggu aja seminggu lagi" I said. Minggu berikutnya, "hmm, seminggu lagi akan bagusan kok", dan minggu minggu berikutnya. "Yaudah deh, pasrah aja ya", haha, maapkeun :p
FYI, di Langkawi ini ada salah satu rumah makan mamak yang enak banget, banget banget enaknya. Jadi wajib coba dan cari tau sendiri ya *lupa nama tempatnya ;)

Dari Langkawi, kita nyebrang balik lagi. Yang anehnya nih, orang-orang dari Langkawi pada bawa koper segede gaban dan kayak abis shopping gitu. Nah, kita kan bingung. Ini orang-orang dari mana kenapa bisa bawa barang sebanyak ini. Perasaan kita di pulau yang sama, tapi kita engga ngeliat ada keramaian di Langkawi. Tiba-tiba di pelabuhan Langkawi udah rame aja, orang-orang dengan keluarganya plus koper-koper besar kayak abis bawa barang jarahan aja bang, hihi ^.^

Akhirnya, kita sampai ke last destination, Kuala Lumpur.

This is it, Suria KLCC, menara Petronas.
Kalau udah di KL, kita merasa cukup aman nih karena KL udah kayak rumah kedua bagi Agung. Dia bule nya Malay yang suka bolak-balik Bandung-Malay, so sibuk ^.^








Engga banyak yang bisa diceritakan selama berada di KL. Disana kita menginap di jalan Bukit Bintang dan makan di rumah makan mamak. Esok malamnya kita menginap di rumah kenalan Agung, rekan Agung, yang juga keluarga baru bagi Agung. Mereka keluarga yang baik banget dan punya seorang cucu yang lucu. Uniknya, muka cucu beliau bisa mirip gitu dengan Agung. Kononnya karena ibu si baby waktu hamil dulu engga suka sama Agung, suka berantem gitu, haha..>>

Sampai juga pada ujung perjalanan ini. Pagi hari kita dianter oleh keluarga itu menuju stasiun kereta ekspress yang langsung menuju bandara. Setelah selesai check in (kita check in 4 jam sebelum jadwal keberangkatan, hebat ya), kita keliling bandara untuk lihat-lihat. Hanya bisa lihat-lihat karena kita sudah kehabisan uang. Ini pun tiket pesawat dibeliin dan dibayarin dulu oleh saudara Risca di Jakarta. Melihat muka kita yang udah kelaperan dan cuma punya iler doang, Agung tiba-tiba datang seperti dari surga ngajakin kita makan. Ternyata dia abis tarik uang di ATM, alhamdulillah, ada juga ATM yang bisa digunakan. Itu kayak dapat angin dari surga. Kita makan McD dengan lahap  kayak engga makan satu minggu. Selesai itu, kita masih sempat bersantai-santai bahkan berfoto-foto. Seperti ini nih, foto di dalam kereta bandara yang mengantar penumpang antar terminal.

Tragedi berikutnya terjadi. Sesampai di terminal penerbangan menuju Jakarta, kita udah engga diperbolehkan masuk ke pesawat karena telat boarding. Yup, we miss flight. Kita engga bisa berbuat apa-apa. Diputuskan lah kita tetap balik ke Jakarta dengan beli tiket baru hari itu juga dengan pertimbangan engga mungkin extend nginap lagi dan tas kita udah masuk bagasi pesawat pertama, alias terbang duluan ke Jakarta. Lumayan bingung karena kita udah engga punya duit. Syukurnya atm Risca bisa digunakan dan uangnya mencukupi untuk kita beli 3 tiket baru. Kita beli tiket Air Asia dengan penerbangan terakhir, malam sekitar jam 12 malam. Eh, delay pulak. Makin malam aja kita nyampe Indo. Sampai di Indo bandara Soeta  jam 2 malam, daaaaan engga berhenti disini aja perjalanan kita, kita harus kudu ngambil tas yang udah terbang duluan menggunakan Lion. Ya tengah malam gitu engga ada lagi pegawainya yang stand by bekerja. Jadi kita harus menunggu sampai pagi hari untuk ngambil tas tersebut. Means, harus menginap di bandara dong. Dari tidur selonjoran di lantai, pindah tidur di mushalla, numpang di meja satpam sampai senderan engga berdaya di pintu masuk terminal. Risca dan Agung masih berjuang mengakali untuk bisa ngambil tas kita di terminal Lion. Kita cari orang dalam yang bisa bantuin, dan Alhamdulillah bisa. Kita berhasil dapatin tas kita lagi di subuh hari dan buru-buru naik Damri pertama. Eh, Damri nya kagak jalan-jalan dong. Dengan inisitif Risca, kita pindah naik Taxi dan go go go pulang ke rumah Risca. Gue dan Agung udah engga sadarkan diri, tidur nyenyak di dalam taxi, Risca doang yang melek untuk kasih arahan jalan sama om taxi nya. Alhamdulillah, sampai juga di rumah Risca. Yes, finally home. It's home. We miss home.

                                                                13 unforgettable days



Additional moments